Thursday, December 29, 2011

Superhero Indonesia Go Internasional



Untuk urusan superhero, ternyata Indonesia tidak kalah. Malah kita boleh berbangga hati karena dari 36 superhero Indonesia yang terdaftar di internationalhero.co.uk, kita tidak memiliki superhero yang 99% menjiplak seperti kasus Spiderman India tadi. Memang sih dalam sisi “kemampuan superhero” kita masih banyak meniru, jadi superhero Indonesia juga rata-rata bisa terbang, bisa menahan meteor, bisa memanjangkan tubuh, bisa menghilang, punya sinar laser di mata, dan banyak lagi.

Tapi justru itu menunjukkan kalau superhero Indonesia sudah melakukan “standarisasi” hingga layak tampil di Hollywood, sebab bukankah kemampuan superhero Amerika juga tidak jauh dari itu? Kembali ke pertanyaan awal : Apakah Indonesia punya superhero kelas dunia yang bisa diangkat menjadi sebuah film? Jawabannya ada, Indonesia punya beberapa superhero yang tidak “memalukan” untuk ditawarkan ke produser luar negeri. Beberapa dari mereka antara lain:


 

Wednesday, December 14, 2011

Okuribito: Kita Adalah Penjaga Gerbang Kematian



Sebuah film Jepang, judulnya Departures (おくりびと Okuribito) karya sutradara Yojiro Takita, rilis 13 September 2008 (arrghh… ini me-nye-bal-kan! selalu saja kalau ada film bagus pasti saya telat nontonnya!). Awalnya saya pinjam film ini dari teman karena tertarik sama sinopsisnya, inti ceritanya sih begini: Daigo Kobayashi seorang pemain cello harus menerima kenyataan bahwa orkestranya dibubarin, padahal dia baru beli cello baru! (berapa sih harga cello?). Akhirnya untuk menunjang kehidupan keluarganya, dia bekerja jadi “Tukang Merapihkan Jenazah”

Maksudnya apa? Oh, ternyata di Jepang sana ada semacam pekerja swasta”yang bertugas menangani jenasah,jadi bukan coroner dari rumah sakit. Kadang dia menangani jenasah yang sudah busuk, kadang dipanggil ke rumah menangani jenasah anggota keluarga yang baru meninggal. Nah, khusus untuk penanganan jenasah di rumah, itu ada semacam ritual bagi jenazah yang akan dikremasi, jenazah harus didandani dulu supaya cantik dan ganteng lagi.


 

Sunday, December 11, 2011

IL POSTINO: Ide Ceritanya Bagus...


Film berbahasa Italia dan Spanyol ini disutradarai oleh Michael Radford, dan rilis tahun 1994. Aslinya film ini bersumber dari novel yang terbit tahun 1985, judul novelnya Ardiente Paciencia, atau El Cartero De Neruda, yang ditulis oleh Antonio Skármeta. Tapi ada perubahan nama tokohnya saja, kalau di novel nama tokoh utamanya Mario Jimenez tapi di film namanya berubah jadi Mario Ruoppolo. Lalu istrinya di novel punya nama Beatriz Gonzalez tapi di film namanya jadi Beatrice Russo.
aaa
Menurut saya, ide cerita film ini bagus dan sederhana. Ini membuktikan bahwa kadang dari hal-hal kecil yang luput dari pandangan, bisa muncul sebuah cerita yang menarik.

... lanjut baca

Monday, December 5, 2011

Death Bell: Ini Film Slasher Pendidikan?



Film Death Bell dari Korea ini adalah karya Kim Sang Man (ditulis di kotak DVD) atau Yoon Hong-seung (ditulis di situs resminya) yang rilis tahun 2008. Film ini sebenarnya termasuk ke genre slasher. Sebelum lanjut kita lihat dulu apa itu film slasher: Menurut definisinya: film slasher adalah turunan dari film horor yang biasanya berisi seorang pembunuh psikopat yang memburu dan membunuh korbannya dengan cara-cara yang brutal, seringnya dengan alat-alat tajam seperti pisau atau kapak.

Setelah membaca definisi tadi,  bisa dibayangkan dong, apa yang akan disajikan dalam film Death Bell? ya lengkap lah… di sini kita bisa lihat adegan para korban yang mati digantung, badannya disayat-sayat, dimasukin ke mesin pengering cucian sampai kepalanya pecah, ditenggelamkan di akuarium, atau “hanya sekedar” sekujur badan dan muka ditetesin lilin.

... lanjut baca


Thursday, November 17, 2011

Nonton Downfall: Merinding Dini Hari



Saya yakin  sudah banyak yang menonton film ini. Ya, soalnya ini film lama, rilis tahun 2004 di Jerman (kalau rilis di USA tahun 2005) dengan disutradarai oleh Oliver Hirschbiegel. Film ini masuk kategori epik movie yang dibuat dari hasil kerjasama 3 negara: Jerman, Italia, dan Austria. Kalau saya nonton film ini dua kali, yang pertama lupa lagi. Pokoknya lewat DVD–bajakan tentu saja–dan yang kedua itu tadi malam.

Jadi ceritanya tadi malam itu iseng, bangun tidur jam 1, nggak tahu mau ngapain. Akhinya nyalakan TV dan langsung tampak muka Hitler di layar! Buset… Hitler boo!  Nah, karena mata masih belekan plus baru dua detik ngeliat tampang si kumis itu ternyata langsung muncul iklan, maka otak saya agak lambat mencerna. Sampai iklan beres dan film mulai lagi, saya masih nyangka itu adalah film Valkyrie (Bryan Singer, 2008).


 

Wednesday, November 16, 2011

Nasi Goreng “Kuntilanak”


Jadi yang ini ceritanya waktu saya dan teman-teman kepentok deadline (lagi), saat itu deadline kita sudah sampai tahap jam, bukan hari lagi. Saking mempetnya, sampai-sampai kita begadang tiga hari tiga malam. Di malam ketiga—sekitar jam sebelas—semua baru inget bahwa kita satu tim ini belum makan dari siang. Maka dengan mengabaikan fakta bahwa film itu harus jadi jam delapan pagi besok, kita memutuskan buat makan dulu. Iya lah, daripada mati kelaparan di depan komputer!

Pertanyaan: dimana jam sebelas malam nyari makan yang cepat, praktis, dan nggak buang waktu? Jawaban yang logis tentu cuma satu: CARI NASI GORENG!


Tuesday, November 15, 2011

The Maiden Heist, Komedi Para Senior



Ceritanya sih sederhana, ada tiga orang penjaga museum yang sudah tua banget dan masing-masing punya benda kesayangan di museum tersebut. Pokoknya sampai mereka sepakat nggak bisa hidup tanpa benda itu di sebelahnya! Nah, ternyata museum tempat mereka bekerja itu mau pindah ke Denmark! mereka patah hati, dan sepakat untuk mencuri benda-benda itu untuk mereka sendiri.

Di sinilah komedi mulai mengalir keluar. Untungnya komedi dalam film ini tidak bergantung pada hal-hal jorok atau adegan-adegan slapstick yang berlebihan. Sebaliknya hampir semua kelucuan dalam film ini mengalir karena memang karakter dan situasinya tidak dibuat-buat seperti bisa terjadi karena miskomunikasi antar para karakter dalam film ini.


 

Nonton American Splendor 43 Kali



Mungkin ini salah satu film yang saya tonton berkali-kali, selain Arisan (Nia Dinata, 2003), Before Sunrise (Richard Linklater, 1995), dan Before Sunset (Richard Linklater, 2004). Tapi secara jumlah, film ini masih yang paling sering saya putar ulang. Kadang saya nontonnya sambil makan, sambil nyetrika baju, sambil nyuci baju (pakai mesin cuci, bukan laptopnya dibawa ke kamar mandi).

Nggak tahu ya, apa yang bikin saya suka banget sama film ini... hmm... mungkin caranya bercerita, mungkin juga... ceritanya? ya, film yang disutradarai oleh Shari Springer Berman dan Robert Pulcini ini rilis tahun 2003. Secara cerita sebenarnya film ini "hanya" bercerita tentang kehidupan seorang laki-laki bernama Harvey Pekar (Paul Giamatti), yang juga merupakan penulis kumpulan komik American Splendor.


 

Saturday, November 12, 2011

School of Rock vs Garasi



Postingan kali ini  mengacu pada film yang menceritakan terbentuknya sebuah tim/kelompok dan bagaimana mereka berkembang hingga meraih sukses.

Tema-tema begini sudah banyak di Hollywood, misalnya (yang tema-tema olahraga dulu aja ya) film "Coach Carter" (Thomas Carter, 2005) atau "Rebound" (Steve Carr, 2005), yang keduanya ngomongin soal tim basket yang terpuruk dan bangkit lagi. Dalam kedua film itu, kita bisa lihat gimana sistem latihan mereka? gimana sih cara main basket itu? atau apa saja yang diperlukan dalam basket? formasinya apa aja? ditambah tentu saja adegan-adegan pertandingan yang seru dan penuh drama.

Oke, pertanyaannya... gimana kalau film ini bicara tentang musik? dan kenapa harus "School of Rock" (Richard Linklater, 2003) serta Garasi (Agung Sentausa, 2006) yang dijadikan contoh? Ah, sederhana aja, ini alasannya:


 

Friday, November 11, 2011

Nasi Goreng Papua



Tukang nasi goreng kedua yang saya jauhin letaknya ada di sebelah timur base-camp, tepatnya di depan sebuah rumah sakit. Nah, kalau yang ini saya curiga, jangan-jangan memang pedagangnya baru keluar dari rumah sakit atau mungkin efek tiap hari lihat ambulance keluar masuk gerbang hingga keseimbangan otaknya diragukan!

Jadi malam itu saya makan sama temen, sama-sama lagi ngedit juga. Malam ini adalah malam terakhir kita barengan karena besok temen saya itu mau pergi ke luar negeri... ke Papua. Berhubung ada momen spesial begitu, yang biasanya kalau makan kita cari nasi goreng tanpa embel-embel apa-apa. Paling juga pake telor dadar, kerupuk, sama suiran ayam kan? Tapi karena ini malam
jadianterakhir kita, maka kita pengen lah makan nasi goreng yang rada beda. Nah, kebetulan di spanduk nasi goreng itu saya lihat ada kata "NASI GORENG KAMBING".



Thursday, November 10, 2011

Nasi Goreng "Naga"



Sebenarnya sudah lama agak curiga, bahwa pada hari saya menemukan si mamang itu, sebenarnya feng sui menunjukkan kesialan kalau saya pergi ke barat, tapi gue ngeyel. Jadilah saya kejebak SUPERTRAP!

Jadi ceritanya, malam itu saya berjalan ke arah barat (berasa Wiro Sableng, "Ijinkan aku berjalan ke arah barat, Guru!). Arah barat adalah wilayah dimana saya akan ngelewatin beberapa tukang nasi goreng yang penuh banget sama para mahasiswi cakep yang lagi bareng sama piarannya. Satu mahasiswi, satu piaraan. Kadang mereka lagi ketawa-ketawa, kadang lagi ngobrol biasa, kadang lagi suap-suapan.


Balada Nasi Goreng



Karena segala kepraktisannya itu maka nasi goreng adalah obat penyembuh lapar paling praktis, dan saya suka itu. Anehnya, mungkin Asosiasi Tukang Nasi Goreng Indonesia (ATNGI) sudah menyebar mata-mata dan mereka berhasil mendeteksi keberadaan saya. Karena faktanya, setiap saya nginep di base-camp maka  para tukang nasi goreng akan mengepung kantor! Jadi ke arah manapun saya berusaha menyelamatkan diri, maka di delapan penjuru mata angin minimal ada tiga tukang nasi goreng yang teriak-teriak minta dibeli.

Semua tukang nasi goreng itu sudah pernah saya COBAIN (yah pokoknya begitu deh! nggak bisa nemuin kalimat yang pas, jadi pake kalimat itu saja meski terkesan homo!). Tapi ada tiga tukang nasi goreng yang sukses bikin saya mengucap janji
di bawah setumpuk komik Narutountuk nggak akan beli di sana meski mereka adalah tukang nasi goreng terakhir di dunia.


 

Wednesday, November 9, 2011

Quarantine, Film Yang “Agak Nendang”


Awalnya saya dijebak sama temen di kantor, dia bilang punya film bagus dan habis kerja ngajak nonton, akhirnya pas kerjaan beres jam 4 sore, saya bela-belain nggak pulang, nungguin dia yang lagi ada urusan dulu sampe jam 7 malam. Lalu pas jam 7 dia dateng, dan ngeluarin film itu dari tasnya.. JREEENG!! "Ini filmnya..." Saya ngeliatin cover film itu dan nanya polos "Ini horor ya?", Dia nyengir dan jawab "Iya..."

Emh.. buaguuss buaguuss... nyuruh nunggu 3 jam cuma buat nonton horor! Tapi demi persahabatan akhirnya saya nelepon "mantan pacar" di rumah dan bilang bakal telat pulang, saya bilang diculik sama temen (untung dia ngerti...). Apalagi dengan wajah memelas si teman itu bilang kalau dia juga nggak berani nonton ini sendirian, oh.. betul kata matematika psikologis, 1 orang takut + 1 orang takut = 2 orang berani, maka jadilah kami nonton film itu di TV 70", dengan kondisi lampu dinyalain (ternyata kami berdua memang penakut ya) ...

...lanjut baca

Tuesday, November 8, 2011

Ini Korean Kill Bill



Saya mau ngomongin film yang judulnya "The City of Violence". Kenapa? karena setelah nonton, saya berpikir... "aneh juga, film segini bagus kok baru sekarang sampai ke Indonesia? padahal di Korea sana sudah rilis dari tahun 2006".

Kenapa saya bilang bagus? hmm, gini aja deh... dengan memasang tagline "Korean Kill Bill" maka secara otomatis membuat film karya sutradara Ryu Seung Wan ini harus siap dibandingkan dengan film Kill Bill besutan Quentin Tarantino, dan memang ketika sudah ditonton rasanya memang layak dia pasang tagline yang agak "kurang ajar" seperti itu, heu...


 

Wah, Ternyata Dia Clapper AADC!


Sudah beberapa hari ini fenomena AADC balik lagi, dan itu membuat saya nonton lagi AADC di laptop. Nggak tahu ya kok mendadak masih saja merasa kangen sama film yang satu ini? mungkin karena film ini menurut saya sudah sah buat jadi semacam parameter kebangkitan film remaja Indonesia. (Bahkan lebih jauh lagi, kebangkitan film Indonesia)

Karena setelah AADC tayang, secara tidak langsung orang akan langsung membandingkan film remaja yang keluar berikutnya dengan AADC. Suatu hal yang berat dan sepertinya belum bisa dikejar juga oleh film-film remaja lainnya. Apalagi film horor komedi yang nyaris terasa dipaksakan.Sebenarnya juga nggak adil membandingkan AADC dengan film-film kelas B Indonesia


 

Sedikit Tentang Genre Road Movie



Le Grand Voyage adalah sebuah film yang menceritakan perjalanan ayah dan anak dari Perancis menuju Arab Saudi. Singkatnya, sang ayah ingin naik haji dan minta diantar oleh putranya mengunakan mobil, melintasi sebagian Eropa dan Asia hingga masuk ke Mekkah.

Di dalam film itu kita bisa melihat pergolakan emosi, pertentangan ayah dan anak tersebut, gaya berpikir masing-masing yang jelas berbeda, sampai bagaimana dan kenapa masing-masing dari mereka bisa berubah. Semua itu dipotret dengan adegan sebuah perjalanan panjang. Sangat menarik. Dalam dunia perfilman, film yang bentuknya seperti ini sering digolongkan dalam genre road movie.


 

Monday, November 7, 2011

Noriko’s Dinner Table: Dianjurkan Untuk Tidak Menonton


Sudah lama banget saya mau bikin review film ini, tapi nggak tahu kenapa setiap kali dicobain males terus. Ada aja halangannya, sampai akhirnya jadi juga meski harus dipaksain. Bukan apa-apa, karena sebuah review film biasanya berpotensi membuat orang ikutan nonton, atau minimal penasaran pengen nonton juga. Nah padahal sebenarnya salah satu faktor yang bikin saya males nge-review film ini adalah: Saya nggak mau ada yang penasaran dan jadinya nonton juga (eh.. malah jadi penasaran ya? Haha…)

Film ini merupakan prequel dari Suicide Club (Sion Sono, 2002), dan dalam film yang  dan rilis tahun 2006 ini, dalam film ini ada satu pertanyaan inti: seberapa kenal kamu dengan dirimu?

Sunday, November 6, 2011

One Big Pack



Untuk kategori mamalia manusia, perut saya termasuk buncit berukuran di atas rata-rata. Aneh, soalnya saya nggak minum bir, nggak merokok, bahkan saya juga nggak suka melanggar ma lima atau lima hal terlarang dalam pemikiran Jawa, yaitu: madat (nenggak ecstasy sampai tepar), madon (jadi langganan Saritem, Sarkem, atau Dolly), minum (Topi Miring atau Jack Daniels?), main (judi di Christmas Island), dan maling (yang paling ngentrend ya, korupsi).

Akhirnya, saya sering merasa kalau perut buncit adalah kutukan atau karma! Pertanyannya: apa sih yang sudah terjadi—baik di kehidupan sekarang atau kehidupan masa lalu—sampai saya dapet perut off-side kaya begini? Karena perasaan saya sudah jadi orang baik, sampe ma lima juga saya jauhi (eh… bentar dulu… kalau ngeliatin gambar Sora Aoi nggak pake baju masuk yang mana ya? Nggak ada kan? Jadi boleh kan? kan? kan? Lagipula masa perut ini buncit cuma gara-gara ngeliatin gambar artis bokep Jepang? Duh, nggak elit banget!)

Saturday, November 5, 2011

Beruntunglah, Manusia Terbuat dari Tanah



Di ruang kerja saya sekarang, sebenarnya nggak ada satupun orang yang bisa ngedit film siang-siang! Kenapa? apa ada pocong? Lho kok ada pocong siang-siang? Bisa saja lah, kalau pocongnya salah pergaulan pasti keluarnya siang!

Bukan, ini bukan soal pocong… tapi–berkebalikan dengan teori dasar editing yang lebih baik dilakukan di ruang privasi yang beku sejuk–ruangan kerja ini memang panas banget. Secara, ruang editing saya ada di lantai tiga, atapnya dari bilik dilapis seng (bukan lebay, beneran bilik dan seng! Sialnya banyak yang nyangka saya bohong soal fakta ini), sementara gedung tempat saya ngedit itu 90% terbuat dari oncom kayu yang dicat coklat tua (Agak membingungkan sih, gedung kayu tapi dicatnya dengan warna kayu… terus buat apa juga dicat ya?). Pokoknya gedung tempat saya kerja sampe dinamai “Gedung Kayu” ya karena itu alasannya, semuanya dari kayu! Kebayang dong dengan kombinasi seperti itu maka mulai jam sebelas siang ruangan ini sudah menyerap panas yang nggak bisa lagi dipantulkan keluar. Mirip sama efek rumah kaca lah, cuma ini namanya efek gedung kayu.



Friday, November 4, 2011

Saat Kebelet Pipis



Ceritanya, adek darisalah seorang temen saya kena dehidrasi (katanya sampe kejang-kejang) dan harus masuk rumah sakit. Menurut analisa,  itu gara-gara terlalu lama di depan komputer dan selalu lupa minum. Iya sih, kerjaan adeknya itu web programmer yang juga sama maniak game online. Kalau sudah di depan komputer bisa lupa ngapa-ngapain. 

Pas saya tanya “Biasanya berapa lama adek mu di depan komputer?”, temen saya menjawab “Enam jam!” Nah saya langsung ketawa (dalam hati lah, mana berani ketawa di depan temen yang lagi sedih? Bisa kena amputasi leher!). Soalnya sebagai editor film, saya harus ada di depan dua monitor sampe kisaran limabelas jam sehari. Tapi di balik ketawa, saya juga rada-rada mikir “Kalau yang enam jam saja berpotensi kena dehidrasi, apalagi yang lima belas jam ya?”