Thursday, April 19, 2012

Agni, the Loveable…


Saya kenal cewek ini jauh sebelum dia jadi juara di Putri Indonesia 2006 (sebuah ajang yang saya pengen ikutan tapi nggak pernah bisa). Jadi saya kenal dia tepatnya ketika nonton film Mengejar Matahari (Rudi Soedjarwo, 2004) dimana dia berperan di sana sebagai Rara, seorang perempuan yang jatuh cinta sama tokoh utama.

Jadi menurut saya, Agni adalah ini salah satu dari sekian sedikit artis yang lahir dari jalur kompetisi, tapi berproses terbalik: kalau orang lain jadi Putri Indonesia dulu baru ketarik main film/iklan/model, kalau dia main film dulu baru ikutan ajang Putri Indonesia (dan juara juga, wew!)


 

Dosen Gadungan di UNPAD!


Akhirnya saya bisa merasakan juga jadi dosen. Tepatnya dosen tamu di Fakultas Seni Budaya Universitas Padjajaran. padahal nggak pernah nyangka, mimpi aja nggak berani… soalnya saya kemana-mana cuma ngantongin ijazah STM. Beneran lho…

Nah, suatu hari ada senior saya yang jadi dosen di sana (dia sih pinter, sudah S2 lah!) minta tolong, katanya “Mau nggak jadi dosen tamu? Materinya soal apresiasi kritik film. Kan kemaren juara di UI…” Sebenarnya ini ajakan yang beresiko karena juara kritik film di UI bukan berarti sudah ngerti soal kritik film. Tapi karena saya penasaran maka saya sanggupin. Apa yang bikin saya penasaran? Pertama jelas: gimana sih rasanya jadi dosen? Yang kedua: bener nggak sih di UNPAD banyak cewek cakep?

... lanjut baca

Sunday, April 1, 2012

Catatan The Raid: Sebaris Bersama Alay


Sebenarnya bukan pilihan saya untuk nonton sendirian ke bioskop, memang rasanya lebih nyaman kalau bareng-bareng biar rame. Tapi kemarin saya terpaksa nonton The Raid sendirian di Ciwalk XXI, soalnya memang saya mau ngisi kuliah di Unpad, yang mana salah satu materinya adalah tentang film itu tapi saya belum nonton, dan kebetulan memang ga ada yang bisa diajak nonton.

Maka jadilah saya datang ke bioskop dengan kondisi seperti jomblo sejati, seseorang yang nggak laku, dan atau orang yang lagi LDR… Euh sebenarnya untung juga datang sendirian soalnya… buseet, cewek di sana ternyata bening-bening dan saya bisa cuci mata, tapi semua cewek itu nggak ada yang sendirian. Kalau bukan sama
monyetnyacowoknya, pasti lagi berkelompok. Ugh, kenapa sih cewek senengnya berkelompok terus?


 

Friday, March 23, 2012

Prisia, yang Eksotik…


Saya pertama kali lihat dia itu dulu banget pas tahun-tahun 2007 atau 2008. Waktu itu tiap pagi rutin acara World Kick Off di ANTV, dan sejak menit pertama saya lihat dia… rasannya langsung jatuh cinta yakin kalau dia ini skill entertaiment nya bukan kelas rendahan. Soalnya dari cara dia membawakan acara olahraga itu kerasa banget kalau dia bisa menguasai penonton dengan sorot matanya, gerak-gerik badannya, dan suaranya (Atau memang saya lagi jatuh cinta sama dia? bodo amat! hihihi).

Terus lama-lama kepikiran kalau dia kan ada juga di iklan… Chitato gituh? Lupa lagi ah… anggap aja Chitato ya… pokoknya iklan yang dia lagi makan Chitato terus makanannya habis dan ada cowok di taman yang lagi makan Chitato juga, terus dia deketin cuma untuk ngembat Chitato-nya.


 

Tuesday, March 20, 2012

Menanti Islami Asli, Bukan Adaptasi

Dalam sebuah wawancara, Joko Anwar pernah mengatakan bahwa dalam membuat film, sutradara di Indonesia terbagi dua yaitu sutradara for hire dan sutradara yang memiliki something to say. Sebenarnya “Gelar” ini juga berlaku juga bagi para penulis novel/cerpen. Mereka yang memiliki something to say akan bekerja demi idealismenya, dan bukan mengikui keinginan penerbit yang meng-hire-nya. Mereka pun akan menghasilkan karya yang sesuai dengan idealisme mereka. Atau bila kita bicara tentang karya berlabel Islam, sang penulis mempunyai niat untuk berdakwah lewat tulisannya.

Sejauh ini, di Indonesia karya berlabel Islami lah yang banyak diangkat menjadi film. Bukankah ini adalah sesuatu yang positif? Seno Gumira Ajidarma dalam pidato untuk anugerah SEA Write Award mengatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang belum bisa membaca dengan benar, yakni membaca untuk meningkatkan nilai kehidupannya. Artinya masyarakat Indonesia bukan masyarakat pembaca. Jadi apa label masyarakat Indonesia? Sepertinya label “Masyarakat penonton” lebih layak untuk disandang.


 

Sunday, March 11, 2012

500 Hari yang Menyebalkan



Dari awal saya juga udah suka sama tagline nya yang menggelitik “This is not a love story, this is a story about love.” Terus dari menit pertama nonton juga saya udah kagum banget sama akting-akting pemainnya. Ditambah lagi ada dua aktris yang saya suka: ChloĆ« Moretz dan Zooey Deschanel, wew…

Buat saya akting natural dari Zooey (sekaligus suara nya yang keren banget kalau nyanyi, memang dia penyanyi kan?) justru yang bikin karakternya hidup banget, dan akibatnya setiap cowok yang nonton pasti akan sepakat kalau: Zooey menjelma jadi cewek cantik yang menyebalkan bernama Summer Finn! Sementara beberapa temen cewek yang saya tanya pendapatnya berkomentar dengan wajah lurus “Hmm, ya memang cewek wajar kok bersikap begitu kalau menghadapi cowok.” Maksudnya bukan bersikap menyebalkan, tapi bersikap seperti Summer “f*****g” Finn. (Ah, saya udah mulai terprovokasi nih)
 
 
 

Thursday, March 8, 2012

Dih… Mimpi Jadian Sama Halle Berry!


Dasar mimpi… tadi malam ga tahu deh gimana ceritanya, pokoknya ujug-ujug saya ada di sebuah ruangan mirip kantor (ga tahu deh kantor apaan). Di mimpi itu, sayaceritanya jadi pegawai kantor itu. Ternyata di salah satu meja duduk Halle Berry, dia juga pegawai kantor itu. Dan saya juga nggak sempet-sempetnya mikir “Kok artis Holywood macam dia mesti jadi pegawai kantoran sih? apa duitnya masih kurang?” 

Pokoknya lurus aja di mimpi tuh, seolah-olah Halle Berry kerja kantoran adalah hal biasa. (*nepok jidat!)
Memang saya kenal Halle Berry, tapi cuma sebatas dari film, dan sebenarnya baru setelah saya nonton film “X-Men” (Bryan Singer, 2000) disitu saya baru tahu kalau ada artis yang namanya Halle Berry… plus baru tahu kalau dia ternyata kelahiran tahun 1966 (udah tua ternyata!) .

... lanjut baca 

 

Saturday, February 4, 2012

Room Mate dan Budaya Kita


Setelah menonton film Room Mate karya sutradara Iran, Mehrdad Farid, saya membuka-buka internet dan menemukan beberapa tulisan yang membahas film ini juga. Tapi mungkin karena film ini tergolong baru masuk ke Indonesia maka sebagian besar masih berupa review. Tapi saya agak terkejut ketika membaca banyak tulisan yang menyebutkan film ini bercerita tentang kumpul kebo ala Iran. Padahal kalau kita menontonnya, akan sangat jauh sekali definisi kumpul kebo dengan apa yang dihadirkan dalam Room Mate.

Setelah lama dipikirkan, saya bisa memaklumi mengapa bisa muncul persepsi itu, sebab kalau dilihat dalam perspektif budaya komponen perfilman Indonesia (artinya disini ada komponen pembuat dan penikmat), apa yang bisa diharapkan dari sebuah film yang bercerita tentang dua orang yang tidak menikah, hidup dalam satu rumah, kecuali kegiatan kumpul kebo?


 

Monday, January 30, 2012

Meneliti Industri Film Porno (Asia & Indonesia)


Tanpa bermaksud mengesampingkan negara lain, bila bicara film porno Asia maka negara Jepang lah yang perlu dikedepankan. Ternyata era industri film porno Jepang (biasa disebut JAV atau Japan Adult Video) diawali pada tahun 1960-an. Ketika itu sebagian besar penonton dewasa di Jepang beralih menonton siaran televisi Amerika hingga televisi Jepang kurang diminati. Untuk melawan kondisi ini, pada tahun 1971 stasiun televisi Toei membuat serial yang berjudul “Pinky Violence” sebagai film dewasa. Disusul stasiun televisi Nikkatsu yang meluncurkan film seri “Apartement Wife” sebagai film roman porno softcore. Film ini ternyata bisa menyelamatkan Nikkatsu dari kebangkrutan.

Namun produksi film-film porno Jepang baru benar-benar dimulai tahun 1980 dengan beredarnya AV (artinya tidak lagi mengandalkan stasiun televisi). Bintang yang terkenal di masa itu antara lain Kate Asabuki, Eri Kikuchi, dan Keiko Nakazawa.


 

Meneliti Industri Film Porno (Amerika)


Film porno memiliki sejarah yang cukup panjang, Menurut Patrick Robertson dalam bukunya “Film Facts”, film porno yang paling awal (artinya tanggalnya diketahui dengan jelas) adalah film berjudul “A L’Ecu d’Or Ou La Bonne Auberge“, yang dibuat di Prancis pada tahun 1908. Ceritanya tentang seorang tentara yang menjalin hubungan dengan seorang perempuan pelayan di sebuah penginapan. Lalu ada lagi film “El Satario” dari Argentina mungkin dibuat antara periode 1907 dan 1912.

Dalam bukunya itu pula, Robertson menjelaskan bahwa sebuah film bisa menunjukkan bagaimana konvensi-konvensi porno mula-mula ditetapkan, apalagi sejarah film porno bisa dipelajari dengan baik karena dokumentasinya tersimpan dengan rapi. Sebagai catatan saja, film-film porno tertua yang masih ada tersimpan di Kinsey Collection, Amerika.


Monday, January 23, 2012

Mbak Sora Aoi, Sini Tinggal Saja di Indonesia



Heu… berlebihan kalau saya bilang: “Saya memiliki kedekatan dengan sosok Sora Aoi.”, preeett… bisa-bisa tudingan perdana muncul “Oh, suka nonton filmnya ya?” Eh, tapi kalau itu yang dijadikan ukuran maka saya jawab iya…

Lho, saya memang pernah nonton filmnya, nggak tanggung-tanggung: 11 episode film seri “Mistery Minzoku Gakusha Yakumo Itsuki” yang diproduksi TV Asahi, dan 12 seri “Shimokita Glory Days” hasil produksi TV Tokyo. Saya nonton di rumah teman, kebetulan orangnya rada-rada maniak sama sinetron-sinetron Jepang gitu… Mengingat Sora Aoi termasuk artis AV (Adult Video) terkenal dari Jepang, mungkin ada saja yang bertanya “Apa 23 seri yang saya tonton itu film porno juga?” Sayangnya tidak, karena di Jepang ada kebebasan bagi para aktris AV untuk saling “menyebrang sisi” dengan aktris TV (Television).


 

Friday, January 6, 2012

Prekuel, Sekuel dan Spin Off




"...meskipun bisa dihitung sebagai sekuel, cerita dalam “Terminator Salvation” ini sama seperti tiga film yang disebut diatas bisa juga dibilang sebagai prekuel dari film2 sebelumnya, karena mengambil masa sebelum cerita dalam film pertamanya berawal…”
 
Dari potongan kalimat di atas, kita bisa baca dua kata yaitu: sekuel dan prekuel. Kedua kata ini jelas sangat berbeda, seperti bumi dan langit dan tidak bisa disatukan begitu saja. Jadi secara plot cerita, hampir tidak mungkin ada film yang menjadi prekuel sekaligus sekuel.