Dalam sebuah wawancara, Joko Anwar
pernah mengatakan bahwa dalam membuat film, sutradara di Indonesia
terbagi dua yaitu sutradara for hire dan sutradara yang memiliki something to say. Sebenarnya “Gelar” ini juga berlaku juga bagi para penulis novel/cerpen. Mereka yang memiliki something to say akan bekerja demi idealismenya, dan bukan mengikui keinginan penerbit yang meng-hire-nya.
Mereka pun akan menghasilkan karya yang sesuai dengan idealisme mereka.
Atau bila kita bicara tentang karya berlabel Islam, sang penulis
mempunyai niat untuk berdakwah lewat tulisannya.
Sejauh ini, di Indonesia karya berlabel
Islami lah yang banyak diangkat menjadi film. Bukankah ini adalah
sesuatu yang positif? Seno Gumira Ajidarma dalam pidato untuk anugerah
SEA Write Award mengatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat
yang belum bisa membaca dengan benar, yakni membaca untuk meningkatkan
nilai kehidupannya. Artinya masyarakat Indonesia bukan masyarakat
pembaca. Jadi apa label masyarakat Indonesia? Sepertinya label
“Masyarakat penonton” lebih layak untuk disandang.
