Tuesday, March 20, 2012

Menanti Islami Asli, Bukan Adaptasi

Dalam sebuah wawancara, Joko Anwar pernah mengatakan bahwa dalam membuat film, sutradara di Indonesia terbagi dua yaitu sutradara for hire dan sutradara yang memiliki something to say. Sebenarnya “Gelar” ini juga berlaku juga bagi para penulis novel/cerpen. Mereka yang memiliki something to say akan bekerja demi idealismenya, dan bukan mengikui keinginan penerbit yang meng-hire-nya. Mereka pun akan menghasilkan karya yang sesuai dengan idealisme mereka. Atau bila kita bicara tentang karya berlabel Islam, sang penulis mempunyai niat untuk berdakwah lewat tulisannya.

Sejauh ini, di Indonesia karya berlabel Islami lah yang banyak diangkat menjadi film. Bukankah ini adalah sesuatu yang positif? Seno Gumira Ajidarma dalam pidato untuk anugerah SEA Write Award mengatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang belum bisa membaca dengan benar, yakni membaca untuk meningkatkan nilai kehidupannya. Artinya masyarakat Indonesia bukan masyarakat pembaca. Jadi apa label masyarakat Indonesia? Sepertinya label “Masyarakat penonton” lebih layak untuk disandang.